Ronaldinho Pemain Beken Yang Pensiun Sebagai Pemain Miskin

Ronaldinho Pemain Beken Yang Pensiun Sebagai Pemain Miskin

Siapa yang tidak kenal Brasil, negara penghasil pemain sepakbola kelas dunia. Kebanyakan dari negara samba itu. Mungkin tidak semua kami sebutkan nama-nama pemain terbaik yang lahir dari negara tersebut, namun selalu ada pemain berbakat generasi-generasi.

Sebut saja dari mulai dari legenda Pele, Rivaldo, Ronaldinho, Kaka, dan ,masih banyak pemain lainnya hingga saat ini yang kita tau Neymar diramalkan menjadi calon sebagai pemain terbaik di dunia saat ini.

Untuk Ricardo Kaka saat ini sudah tidak bermain di ajang Eropa lagi, tapi beliau masih menjadi starter andalan bagi klub yang diperkuatnya. Bermain di liga MLS (Major League Soccer) sampai umur pensiun pada tahun 2017 lalu.

Disamping Ricardo Kaka ada satu nama legenda yang nyaris terlupakan, sosok ini bernama Ronaldo de Assis Moreira atau nama beken nya di lapangan biasa dipanggil Ronaldinho. 

Pemain yang pernah menyabet dua kali pemain terbaik dunia ini seperti terlupakan oleh dunia sepakbola karena ulahnya sendiri.

Pemain ini dikenal dapat menyihir lawan mainnya dengan kedua kakinya, tidak terhitung sudah berapa lawan tanding yang dia kecoh melalui kakinya tersebut. Napak tilas kepada background pemain satu ini, berasal dari keluarga miskin di salah satu di Porto Alegre- Brasil

Ronaldinho mungkin berasal dari keluarga kurang mampu, akan tetapi kemampuan yang dimiliki nya tidaklah memandang status sosialnya untuk menjadi profesional dunia. Memiliki saudara yang lebih tua 10 tahun dari nya yang bernama Roberto de Assis Moreira, yang juga lebih dulu berprofesi sebagai pemain sepakbola profesional di Brasil.

Ayah mereka bekerja sebagai penjaga pintu untuk tim Gremio asal Porto Alegre tersebut, sebagai penjaga pintu stadion. Panggilan assist untuk Roberto hingga menurun ke Ronaldinho nantinya bukan tanpa sebab.

Panggilan ini melekat erat pada dirinya karena mereka itu pemain profesional penghasil Assist / umpan, lebih banyak melampaui assist yang dicatatkan oleh ayahnya selama ini.

Mereka percaya dengan assist mampu menaikkan taraf hidup untuk keluarganya, terutamanya dari sisi ekonomi.

Semua Petaka Bermula

Dari penghasilannya ia mampu membuat kehidupan keluarganya menjadi layak dan naik tahta. Bahkan membeli rumah baru yang dilengkapi dengan kolam renang, akan tetapi dari sanalah semua petaka bermula.

Kolam renang tersebut menjadi tempat kematiannya ayah mereka, disebabkan karena tenggelam di kolam renang tersebut. Semenjak peristiwa kepergian ayahnya itu, Roberto kakak tertua bertindak sebagai abang sekaligus sebagai ayah untuk Ronaldinho.

Semenjak itu Ronaldinho seperti tertekan dan cenderung menjadi liar, sikap itu ia tunjukan ketika menjadi pemain di PSG (Paris Saint Germain) , sikapnya yang kerap melanggar peraturan dan tidak disiplin dalam latihan semakin terlihat. 

Berhasil mencapai sukses lebih besar di Barcelona itu tidak menghentikan sikap liarnya dan kerap tidak disiplin, sampai pada puncaknya pada tahun 2008 ia didepak dari Barcelona oleh sang pelatih Pep Guardiola.

Semua sangat heran dengan pelatih waktu itu, dan ternyata memang keputusan kontroversial yang sangat brilian. Pep menganggap Ronaldinho sudah habis masa pakai, dan kemampuannya sudah diturunkan kepada penerusnya yang lebih muda yaitu Leo Messi.

Performa Menurun Karena Kehidupan Glamor

Pada tahun 2008 Ronaldinho memilih pindah ke liga Italia AC Milan. Benar saja pada tahun-tahun tersebut performanya tidak stabil, bahkan cenderung makin hari semakin menurun. 

Padahal pada tahun tersebut Ronaldinho baru berusia 28 tahun, secara logika umur demikian masih bisa memberikan performa prima. Menurut sumber TheGuardian, nilai pembelian Ronaldinho pada saat itu hanya 16,7 juta Euro.

Performa drop tersebut tidak hanya terlihat di kelas liga saja, bahkan permainan Ronaldinho juga turun sangat drastis ketika dipanggil oleh tim nasional Brasil. Permainan apik pada ajang Piala Dunia 2002 lalu ,sama sekali tidak mampu ia kembalikan pada Piala Dunia tahun 2006. 

Tidak selesai sampai disitu Ronaldinho sudah tidak lagi masuk dalam seleksi pemain tim nasional, pada Piala Dunia 2010. Hal itu semakin membuktikan performa dirinya tidak masuk dalam standar keinginan pelatih, ia sendiri sadar akan performa drop yang ia berikan dan tetap berusaha mengembalikan performanya.

Ronaldinho terus berusaha mengembalikan performanya, dan sempat bermain bagus ketika bergabung bersama Flamengo Brasil. Pada tahun 2011 nama nya kembali tercatat dalam tim nasional, hal itu sangat didukung oleh fans beratnya dan juga publik brasil. 

Pelatih Brasil saat itu, Mano Menezes juga memberikan dukungan dan kesempatan kepadanya, namun lagi-lagi Ronaldinho gagal mengembalikan permainannya. Setelah gagal dari ajang tersebut terakhir Ronaldinho menandatangani kontrak bersama klub Fluminense pada bulan Juli 2015. 

Padahal sebelumnya klub Vasco da Gama, menyatakan tertarik kepadanya dan sudah membuat kesepakatan langsung dengan Ronaldinho sudah deal 90%. Namun lagi-lagi Ronaldinho tidak bisa memberi kontribusi yang berarti bagi klubnya Fluminense. 

Dan fakta terbesarnya kontraknya baru berjalan 4 bulan Ronaldinho sudah didepak oleh Fluminense, karena segudang masalah yang dibawa bersamanya dan mempermalukan klubnya. 

Gaya hidup glamor yang dia jalani ketika kaya raya, dan berbagai kasus menerpa dirinya sampai harus dipenjara karena kasus kriminal, hingga akhirnya ia memutuskan pensiun sepakbola di tahun 2018 dalam kemiskinan bahkan tidak mampu untuk bayar hutang.